Untuk kedua kalinya, tahun ini Pemerintah kembali mengambil kebijakan melarang pelaksanaan Mudik Lebaran karena alasan pandemi Covid-19.
Kebijakan larangan mudik terasa cukup memilukan bagi para perantau yang terbiasa pulang setahun sekali bertepatan libur hari raya.. seperti saya. ☺
Kata mudik mungkin berasal dari kata "udik" yang bermakna kampung, dalam tinjauan makna yang agak kasar. Diawali imbuhan "m" jadi mudik, "menuju udik" alias pulang ke kampung halaman. Hehe bukan makna sebenarnya, ini mah makna sok-sokan aja, sotoy alias sok tau. ☺☺
Mudik dan pulang kampung, sebenarnya punya makna yang sama. Tapi belakangan dibedakan. "Mudik" dimaknai pulang ke kampung halaman di rentang waktu libur hari raya. Sedangkan "pulang kampung" dimaknai sebagai pulang ke kampung halaman dengan tidak terikat pada waktu libur hari raya, atau pulang ke kampung di hari libur biasa.
Larangan mudik tahun ini disikapi beragam. Ada yang menganggapnya musibah, namun ada pula yang mencoba menggali hikmah dari kebijakan larangan tersebut.
Mudik Lebaran punya nilai keberkahan, karena di dalamnya ada niat tulus silaturrahim. Berkumpul dengan sanak famili yang selama setahun tidak berjumpa. Di momen itu pula, kita bisa saling berbagi kebahagian (baca: bagi-bagi THR).
Tapi selain nilai berkah, ada pula sebenarnya nilai kerugiannya. Pengalaman saya ketika ber-mudik, alasan mudik banyak membuat pemudik akhirnya mengambil ru'soh untuk tidak berpuasa karena alasan musafir, (yang mana itu memang dibolehkan secara syariat bila jarak tempuh memenuhi syarat). Minimal dalam satu hari perjalanan mudik, kesempurnaan meraih berkah amaliah ramadhan tidak tercapai. Apalagi kalo misalnya untuk pemudik yang jarak tempuh mudiknya harus lebih dari sehari.
Mudik kok dilarang? Mudik kan hak asasi, di dalam mudik ada keberkahan..
Ya betul, pendapat itu bisa dibenarkan. Namun orang lain pun ada yang mencoba mengambil pendapat berbeda. Dengan tidak mudik, mudah-mudahan puasanya tidak perlu bolong, tarawihnya insyaa Alloh jadi full sebulan penuh, target khatam Al Qur'an jadi beres.
Semua itu adalah pilihan. Terserah kita mengambil pendapat yg mana. Qunut dan tidak qunut saja boleh berbeda.. hehe Afwan
Ditulis oleh orang yang baru belajar menulis
by Onoyas Sae, on Thu 22 April 2021
Menunggu Magrib di Mega Regency
Tidak ada komentar:
Posting Komentar