Senin, 26 April 2021

Ifthor Jama'i bersama PRINU Mega Regency


 | Edisi Liputan |


        Dihadiri jajaran Pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah, Buka Puasa PRINU Mercy bersama Ranting Muslimat dan warga Nahdliyyin Mega Regency telah sukses dilaksanakan, Ahad 25 April 2021.
        Ditandai dengan jamuan buah pisang yang masih dalam tandan/ tundunannya, Buka Puasa Bersama dilaksanakan dengan konsep ala NUsantara.
Ifthor Jama'i / Buka Puasa Bersama yang dilaksanakan dgn sederhana, dengan menu jamuan lokal seperti lontong, serabi solo, gorengan dan jajan pasar dengan sedikit sentuhan arabian, Kurma. Alhamdulillah tidak mengurangi khidmatnya acara.
    Dimulai dengan tausiyah dari Kyai Rois In'amul Choiri, menekankan pentingnya ber-NU. Bahwa mungkin NU butuh kita, tetapi yang lebih penting dari itu sesungguhnya kitalah yang lebih membutuhkan NU. Karena melalui NU, kita mendapatkan keberkahan hidup melalui washilah para ulama dan pendiri Jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Maka yakinlah bahwa kita telah berada di kendaraan yang tepat yaitu NU. Ikhlas mengurus NU, maka jaminannya adalah doa sang Muasis NU yaitu jaminan husnul khotimah sampai ke anak cucu kita.
    Kemudian diteruskan Sambutan ketua Tanfidziyah, Ust Danang Abdul Mu'id yang meminta komitmen seluruh unsur pengurus yang ada baik dari PRINU maupun Muslimat NU agar terus bersama-sama mengawal pergerakan Jam'iyyah agar keberadaan PRINU dan MNU di Perumahan Mega Regency dirasakan manfaatnya di tengah masyarakat.
    Acara bukber berjalan penuh kekeluargaan, anak-anak yang ikut serta dalam acara pun menikmati suasana buka puasa dengan riang sesekali diselingi senda gurau khas mereka.
Dan sambil menikmati jamuan menu ifthor, tim-tim teknis pun tidak ketinggalan melaporkan kondisi update pencapaian kerja mereka. Dimulai dari Panitia Takjil on The Road, yg diwakili oleh ketuanya Bp Sayitna melaporkan capaian hasil penggalangan lelang infaq untuk acara ToTR atau pembagian takjil gratis untuk warga masyarakat yang akan digelar minggu depan, tanggal 2 Mei 2021 di beberapa titik ruas jalan perumahan Mega Regency.
    Dilanjutkan dengan laporan dari Pansus Mabes, sebuah panitia khusus yg dibentuk dalam rangka penggalangan dana untuk pembelian Kantor Sekretariat PRINU Mega Regency. Diwakili oleh A'wan Syuriyah sekaligus Bendahara Pansus, Ust Mujibur Rohman melaporkan pencapaian donasi terkumpul sejumlah 13 juta sekian, dalam kerja sebulan pertama. Semoga dengan dukungan semua warga Nahdliyyin dan para donatur, target kepemilikan kantor PRINU Mega Regency segera terealisasi.
    Sambutan terakhir dari Ketua Ranting Muslimat NU Mega Regency, ibu Eny Sumarwati, S.Pd.I menyampaikan harapan agar para kyai dan jajaran pengurus PRINU untuk terus membimbing dan mengawal kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Muslimat.
Acara ditutup dengan wejangan dan do'a Kyai Muhsinin selaku Wakil Rois PRINU memberikan motivasi tentang hikmah bulan Romadhon dan acara diakhiri dengan sholat magrib berjamaah.
    Alhamdulillah acara berjalan lancar dengan menyisakan kenangan manis di hati masing-masing peserta. Semoga acara serupa akan bisa kami laksanakan kembali di waktu mendatang dengan lebih baik.








Liputan berikutnya :
ToTR (Takjil on The Road) 3 May 2021
Doakan semoga SUKSES !!

WMIAT, Onoyas Sae
Mega Regency, 26 April 2021

Jumat, 23 April 2021

Meraih Berkah dalam Kegiatan Berbagi "Takjil"

     


     Tajil atau takjil dalam kosakata bahasa Arab, ta'jiilun dibaca waqof menjadi ta'jiil dari asal kata 'ajjala yang berarti menyegerakan. maksudnya menyegerakan berbuka.

Dalam konteks bahasa Indonesia kata tajil (belakangan lebih banyak dipakai kata takjil dengan huruf "k"). Meskipun di banyak tulisan, penggunaan kata takjil banyak dikritisi, namun istilah ini sudah terlanjur menjadi lumrah dan kaprah, merujuk pada menu makanan berbuka puasa atau pembatal puasa.

     Sudah menjadi lazimnya, bulan Ramadhan menjadi sarana kita berebut berkah. Bulan Ramadhan selain sebagai bulan diwajibkannya puasa, di bulan ini pula kaum mukminin berlomba-lomba menambah amalan ibadahnya, karena di bulan ini Alloh janjikan kelipatan pahala yang luar biasa. Selain puasa, para mukminin menambah sholat sunahnya, bacaan al Qur'annya, dan juga infaq sedekahnya.

     Kegiatan berbagi makanan berbuka puasa menjadi fenomena yang baik, meskipun dengan penamaan acara yang beragam. Ada yang memakai istilah Berbagi Takjil, Bagi Takjil Gratis, atau ada pula yang memakai nama Takjil on The Road, mungkin biar terdengar keren.. ☺☺

Terlepas dari ragam nama-nama tersebut, kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang bermanfaat. Terutama bagi para pejalan atau musafir, untuk orang-orang yang kebetulan masih berada di jalan ketika adzan magrib berkumandang. Semoga geliat kegiatan semacam ini menjadi gerakan kepedulian sesama. Semoga semakin meningkatkan semangat gemar bersedekah. Wallohu a'lam bishawwab


Mega Regency, 24 April 2021

Onoyas Sae

Ikhwal Larangan Mudik.. Antara Resah dan Hikmah

Untuk kedua kalinya, tahun ini Pemerintah kembali mengambil kebijakan melarang pelaksanaan Mudik Lebaran karena alasan pandemi Covid-19.

     Kebijakan larangan mudik terasa cukup memilukan bagi para perantau yang terbiasa pulang setahun sekali bertepatan libur hari raya.. seperti saya. ☺
Kata mudik mungkin berasal dari kata "udik" yang bermakna kampung, dalam tinjauan makna yang agak kasar. Diawali imbuhan "m" jadi mudik, "menuju udik" alias pulang ke kampung halaman. Hehe bukan makna sebenarnya, ini mah makna sok-sokan aja, sotoy alias sok tau. ☺☺ 
   Mudik dan pulang kampung, sebenarnya punya makna yang sama. Tapi belakangan dibedakan. "Mudik" dimaknai pulang ke kampung halaman di rentang waktu libur hari raya. Sedangkan "pulang kampung" dimaknai sebagai pulang ke kampung halaman dengan tidak terikat pada waktu libur hari raya, atau pulang ke kampung di hari libur biasa. 
   Larangan mudik tahun ini disikapi beragam. Ada yang menganggapnya musibah, namun ada pula yang mencoba menggali hikmah dari kebijakan larangan tersebut. Mudik Lebaran punya nilai keberkahan, karena di dalamnya ada niat tulus silaturrahim. Berkumpul dengan sanak famili yang selama setahun tidak berjumpa. Di momen itu pula, kita bisa saling berbagi kebahagian (baca: bagi-bagi THR).
    Tapi selain nilai berkah, ada pula sebenarnya nilai kerugiannya. Pengalaman saya ketika ber-mudik, alasan mudik banyak membuat pemudik akhirnya mengambil ru'soh untuk tidak berpuasa karena alasan musafir, (yang mana itu memang dibolehkan secara syariat bila jarak tempuh memenuhi syarat). Minimal dalam satu hari perjalanan mudik, kesempurnaan meraih berkah amaliah ramadhan tidak tercapai. Apalagi kalo misalnya untuk pemudik yang jarak tempuh mudiknya harus lebih dari sehari.
     Mudik kok dilarang? Mudik kan hak asasi, di dalam mudik ada keberkahan..
Ya betul, pendapat itu bisa dibenarkan. Namun orang lain pun ada yang mencoba mengambil pendapat berbeda. Dengan tidak mudik, mudah-mudahan puasanya tidak perlu bolong, tarawihnya insyaa Alloh jadi full sebulan penuh, target khatam Al Qur'an jadi beres.

Semua itu adalah pilihan. Terserah kita mengambil pendapat yg mana. Qunut dan tidak qunut saja boleh berbeda.. hehe Afwan

Ditulis oleh orang yang baru belajar menulis

by Onoyas Sae, on Thu 22 April 2021
Menunggu Magrib di Mega Regency

Ifthor Jama'i bersama PRINU Mega Regency

  | Edisi Liputan |           Dihadiri jajaran Pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah, Buka Puasa PRINU Mercy bersama Ranting Muslimat dan warga ...